Kamis, 24 Juli 2008

100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL ?

Slogan baru yang kabarnya akan diluncurkan pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional membuat saya sedikit tergugah. Sebagaimana kritikan Emha Ainun Najib pada acara bertemakan “Bangkit Negeriku, Harapan itu Masih Ada” yang digagas teman-teman PKS beberapa waktu lalu.

”Bagi saya, Indonesia bukan hanya masih punya harapan, tetapi Indonesia akan bangkit menjadi sangat luar biasa dan punya pengaruh internasional, apalagi segalanya tersedia cukup banyak di negeri ini,”

Dan memang, kita bukan hanya sekedar memiliki harapan. Kita memiliki segudang pekerjaan besar, terlebih masalah kerakyatan-kebangsaan. Sebagai sebuah bangsa yang besar, jelas Indonesia lebih sekedar dari “Indonesia Bisa” atau “Indonesia Harapan”. Kita mesti bergerak, terus bergerak meng-indonesia-kan Indonesia. Bukan sekedar euforia dengan tema kebangkitan nasional yang sejujurnya memberikan tanda tanya besar, atas dasar manakah para petinggi negeri ini kemarin menjadikan 20 Mei 1908 sebagai tonggak kebangkitan nasional.

Kebangkitan nasional bukan terletak pada kesadaran satu-dua orang, atau berdirinya satu organisasi tertentu (apalagi Boedi Oetomo: hanya catatan organisasi ini tidak memiliki visi kebangsaan. Namun sekedar mengambil momentum “kebangkitan nasional” saya menuliskan semangat ini).

Semestinya menjadi kesadaran kolektif untuk terus membangun harapan, membangun perubahan positif, tatanan madani yang berkiblat pada kepekaan nurani dan sabanda sariksa. Sehingga Indonesia bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Indonesia bisa kembali “Merdeka” dari keterjajahan dan pengasingan. Indonesia bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya dengan kesetaraan hukum, kejujuran moral dan sinergi yang tangguh diantara seluruh elemen bangsa. Konglomerat yang senantiasa menggunakan ke-konglomerat-annya bagi saudara-saudaranya yang melarat. Para komandan senantiasa memberikan teladan pada bawahannya. Para pendidik bisa bekerja tanpa tertekan siswanya dinyatakan tidak lulus oleh Departemen Pendidikan Nasional. Para pelajar tidak takut tak diterima perguruan tinggi negeri atau swasta sekalipun hanya karena biaya kuliah yang jauh lebih tinggi dari gaji bapak-emaknya sebulan.

Indonesia bisa dan sangat-sangat bisa menjadi bangsa yang jauh berdaulat daripada saat ini, dengan melepaskan belenggu kepentingan individu di benak dan hati para pemimpinnya, dengan melepaskan kepentingan dan kacamata barat dari setiap kebijakan yang diambil untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Indonesia bisa menjadi negeri yang makmur dan berkeadilan selama mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu baik dari para pemimpin maupun ragam kebijakan yang tak berpihak pada kepentingan rakyat.

Sudah saatnya kita bangkit, terlalu lama kita terdiam alias TIDAK BERGERAK. Mari kita benahi Indonesia, dengan membenahi diri, keluarga, masyarakat di sekitar kita. Tunjukkan bahwa kita adalah SEORANG INDONESIA dengan idealisme kebangsaan kita: Pancasila. Juga dengan keyakinan saudara-saudara sebagai insan Tuhan.

Bangkit negeriku, harapan itu benar-benar masih ada. Kita terlalu kaya untuk dibilang negeri miskin, tapi kita juga mesti sadar bahwa kita miskin untuk dibilang sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alam dan beragam infrastruktur alami yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Mari kita berbenah, menegakkan kepala kita menatap masa depan. Indonesia bisa hidup seratus tahun lagi, bahkan seribu tahun lagi. Selama kita jaga dengan kesadaran kita sebagai sebuah bangsa dengan segala eksistensinya, tak terpengaruh kebudayaan bangsa asing yang banyak tak sejalan dengan kepribadian kita sebagai sebuah bangsa. STOP!! Suda saatnya kita Indonesiakan Indonesia!!

Terakhir, serahkan kepemimpinan bangsa ini kepada orang-orang muda yang kaya akan intelektualitas dan idealisme untuk bekerja secara profesional dan berpihak pada rakyat. Sepanjang sejarah perkembangan bangsa ini, kaum muda tak banyak diberikan tempat yang sepadan dengan kualitasnya sebagai generasi penerus dan insan perubahan. Kami siap membuktikan, bahwa kami layak diberikan tempat sebagai penggerak Republik Indonesia. Karena di jalan kami mungkin dinilai hanya sekedar BICARA, maka jangan halangi kami melanjutkan perjuangan para pendahulu kami.

Kami bukan Ki Hajar Dewantara, bukan Soedirman, bukan Diponegoro, bukan Soekarno, bukan Hatta, bukan M. Natsir, tapi kami adalah Seorang Indonesia yang belajar dari mereka. Belajar dengan segala keterbatasan keteladanan para petinggi negeri dan fasilitas, serta kebijakan yang mengekang kami untuk bergerak dan berkarya.

Indonesia bisa menjadi lebih baik, dan saya yakin Indonesia akan tetap ada selama saya, kamu, kita tetap bergerak membangun peradaban madani. Negeri adil dan makmur, seperti cita-cita kita dulu. Apa anda yakin dan percaya Indonesia bisa? mari BERGERAK!!

Tidak ada komentar: